Ketika kita mendengar
kata “meditasi”, berbagai bayangan melintas di kepala orang banyak. Bagi
beberapa orang, kata itu memunculkan gambaran tentang latihan adikodrati yang
membuat kita masuk ke alam yang berbeda di dalam pikiran kita. Bagi yang lain,
kata itu mencerminkan sejenis tapa brata yang hanya dilakukan di Asia oleh
orang-orang tertentu. Tapi jika kita ingin melihat meditasi lebih dekat lagi,
kita perlu bertanya – dan, tentu saja, menjawab – tiga hal: Apa itu meditasi?
Mengapa saya ingin bermeditasi? Dan bagaimana sebenarnya cara saya
melakukannya?
Apa itu Meditasi?
Pertanyaan pertama: Apa itu
meditiasi? Meditasi adalah suatu cara untuk melatih diri kita untuk memiliki
keadaan cita atau sikap yang lebih bermanfaat. Ini dilakukan dengan berulang
kali membangkitkan suatu keadaan batin tertentu untuk membuat diri kita
terbiasa dengannya dan menjadikannya kebiasaan kita. Tentu, terdapat banyak
keadaan cita dan sikap yang bermanfaat. Salah satu contohnya ialah keadaan cita
yang lebih santai, tidak tegang dan tidak risau; contoh lain ialah keadaan cita
yang lebih terpusat, atau keadaan cita yang lebih tenang, tanpa celotehan dan
kerisauan batin yang terus-menerus. Begitupun, contoh lain dapat berupa keadaan
cita dengan pengertian yang lebih tentang diri kita sendiri, tentang hidup, dan
seterusnya; dan contoh lain dapat berupa keadaan cita dengan lebih banyak cinta
dan welas asih kepada sesama. Jadi, ada banyak jenis keadaan cita yang
bermanfaat yang dapat kita capai lewat meditasi.
Apa Tujuan Meditasi?
Pertanyaan kedua: Mengapa saya
ingin membangkitkan keadaan-keadaan cita ini? Untuk menjawab pertanyaan itu,
kita perlu melihat dua anasir: Pertama, apa yang sedang saya tuju? Kedua, dari
sudut pandang perasaan, mengapa saya ingin mencapai tujuan itu?
Contohnya, mengapa saya
menginginkan cita yang lebih tenteram dan lebih jernih? Satu alasan yang sudah
pasti ialah karena cita kita tidak tenteram, dan hal itu membuat kita kacau;
hal tersebut menyebabkan banyak ketakbahagiaan dan menghalangi kita melakukan
yang terbaik dalam hidup. Cita kita yang kacau bisa juga berpengaruh buruk
terhadap kesehatan; bisa menyebabkan atau memperparah permasalahan di dalam
keluarga dan membahayakan hubungan-hubungan kita yang lain; bisa memunculkan
kesukaran di tempat kita kerja. Jadi, dalam contoh ini, tujuan kita adalah
untuk mengatasi sejenis kekurangan, sejenis masalah yang kita miliki, baik
secara batin maupun perasaan. Dan kita memutuskan untuk mengambil tanggung
jawab untuk mengatasi masalah itu dengan cara yang teratur lewat latihan
meditasi.
Keadaan perasaan apa yang mendorong
kita untuk memulai latihan meditasi? Mungkin kita sudah betul-betul muak dan
jijik dengan keadaan cita yang kita punya ini. Jadi kita bilang pada diri kita,
“Cukup sudah. Aku ingin keluar dari keadaan ini. Aku harus melakukan sesuatu.”
Dan jika, misalnya, tujuan kita adalah untuk lebih dapat menolong orang-orang
yang kita cintai, maka keadaan emosionalnya, selain keadaan jijik tadi, dapat
berupa rasa cinta dan welas asih. Perpaduan semua perasaan ini mendorong kita
untuk menemukan cara yang akan memampukan kita untuk dapat membantu mereka
dengan lebih baik lagi.
Akan tetapi, sangatlah penting bagi
kita untuk memiliki pemahaman yang makul (realistis) tentang meditasi. Tidaklah
makul jika kita berpikir bahwa meditasi saja dapat menyelesaikan semua
permasalahan kita. Meditasi adalah sebuah alat, sebuah cara. Ketika kita ingin
mencapai sebuah hasil dan kita memiliki perasaan yang positif yang mendorong
kita menuju tujuan itu, kita perlu menyadari bahwa sebuah hasil tidak dicapai
dengan satu sebab saja. Banyak, banyak sebab dan keadaan yang harus
bersatu-padu agar dapat memunculkan hasil. Contohnya, jika saya menderita
tekanan darah tinggi dan hipertensi, meditasi tentu akan membantu. Meditasi
tiap hari dapat membantu saya untuk tidak serisau biasanya. Tapi meditasi saja
tidak akan menurunkan tekanan darah saya. Meditasi dapat membantu, tapi saya
juga mungkin perlu mengubah pola makan saya, lebih sering latihan gerak badan,
dan saya mungkin juga membutuhkan obat-obatan pula. Ketika berbagai anasir
tersebut saya kerjakan bersamaan, hasil yang diinginkan, turunnya tekanan
darah, akan tercapai.
Cara-cara yang digunakan dalam
meditasi tentu juga dapat digunakan untuk membangun keadaan cita negatif. Contohnya, saya bisa
bermeditasi tentang betapa buruknya musuh saya. Saya dapat menggunakan meditasi
untuk menumbuhkan rasa benci, yang kemudian menyebabkan saya mencari dan
membunuh musuh saya. Tapi pada umumnya bukan seperti itu cara menggunakan
meditasi. Meditasi pada umumnya digunakan sebagai cara untuk membangun keadaan
cita positif yang akan bermanfaat bagi kita dan
bermanfaat bagi sesama.
Bagaimana Cara Kita Bermeditasi?
Pertanyaan ketiga: Bagaimana cara
kita bermeditasi? Ada berbagai cara yang digunakan, tergantung pada keadaan
cita apa yang ingin kita kembangkan. Tapi satu hal yang sama-sama ada pada
semua cara ialah bahwa semuanya membutuhkan latihan.
“Latihan” berarti mengulang suatu jenis laku latih lagi, dan lagi, dan lagi.
Jika kita ingin melatih tubuh kita, kita perlu latihan jasmani secara teratur;
demikian pula, kita perlu berlatih dengan cita kita.

0 komentar :
Posting Komentar